Ini hanya nama sebuah kampung kecil di pesisir Danau Toba di kecamatan Purba Horison Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, dalam bahasa daerah setempat disebut Nagori Sirungkungan. Di pesisir Danau Toba dalam wilayah kabupaten Simalungun orang barangkali lebih akrab dengan nama kota Parapat disusul Haranggaol dan sebagian kecil mungkin pernah tahu Tigaras, tapi tidak dengan Sirungkungan. Nagori ini letaknya persis diantara Haranggaol dan Tigaras, kira-kira 8 km dari Haranggaol. Nagori ini terletak di lereng bukit diapit Danau Toba dan bukit yang oleh penduduk setempat dinamai Dolok Simarleo-leo. Akses masuk ke nagori ini memang hanya dari Haranggaol melalui jalan darat berbatu dan diaspal seadanya. Akses melalui danau memang bisa juga tapi jarang dimanfaatkan masyarakat. Jumlah penduduk barangkali hanya sebanyak 40 KK atau sekitar 100 jiwa.
Tidak ada yang spektakuler di nagori ini, dalam arti belum pernah ada kejadian atau orang yang membuat nagori ini populer baik itu yang positip maupun yang negatip, biasa-biasa saja. Adem ayem setenang kehidupan penduduk nagori yang semuanya menggantungkan hidup dari pertanian. Kakek dan ayah saya lahir di nagori ini sementara saya dan adik-adik sudah lahir di perantauan. Sekali-sekali ayah mengajak kami berkunjung ke nagori ini dan boleh dibilang sampai saat ini saya masih berkunjung rutin walaupun sekali dalam setahun.
Nama Sirungkungan sendiri menurut cerita para orang-orangtua berasal dari kata rungkung yang artinya leher. Tepat di tepi danau memang ada semacam daratan yang menjorok ke tengah danau yang kalau dilihat dari kejauhan seperti sebuah tanjung padahal sebenarnya daratan paling ujung tersebut adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Sumatera, seolah-olah ada selat yang memisahkan daratan Sumatera dan pulau kecil tersebut. Selat ini seolah-olah seperti leher (rungkung) yang menyambung daratan dengan pulau kecil tersebut dan muncullah nama rungkung.

Penduduk sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan sebagaimana umumnya kehidupan petani di Indonesia tidak masuk dalam kategori desa miskin tapi juga belum bisa dikatakan hidup makmur dan sejahtera. Bangunan rumah hampir semuanya sama, berdinding papan, beratap seng dan berbentuk rumah panggung dengan tinggi kira-kira setengah meter dari tanah. Nagori ini sudah dialiri listrik dari PLN, ada pemandian umum. Sebahagian penduduk sudah ada yang memiliki sepeda motor, antena parabola dan sebahagian besar sudah semua memiliki pesawat handphone.
Semua penduduk sudah melek huruf karena di nagori tetangga ada sekolah dasar negeri dan swasta tempat penduduk nagori sekitar bersekolah. Di sekolah inilah saya sampai kelas 2 SD. Pola hidup masyarakat juga sudah mulai hidup sehat dengan patungan membangun jamban dan pemandian umum. Penduduk juga tidak ada lagi yang memelihara ternak babi di bawah rumah padahal dulunya rumah dibangun berbentuk rumah panggung karena bagian bawah rumah berfungsi sebagai kandang babi.
Ada yang tidak biasa dengan nagori ini dan mungkin juga nagori-nagori lain di sekitarnya. Tahun demi tahun tidak ada pertambahan penduduk malah berkurang. Sudah ada rumah yang dibongkar karena tidak ada penghuninya dan ada juga rumah dibiarkan kosong. Sekolah di nagori tetanggapun mulai mengeluh kekurangan murid dan kemungkinan tak lama lagi salah satu sekolah SD yang swasta akan tutup. Kemana penduduknya ? Merantau.
Masyarakat yang selama ini bekerja keras mengolah ladang mati-matian menyekolahkan anak ke kota, kebanyakan ke Pematangsiantar. Anakhonhi do Hamoraon di Ahu bukan sekedar slogan tanpa makna, tapi sudah merupakan aliran darah yang harus memecut semangat dalam hidup keseharian dan merupakan prioritas yang datang menyergap begitu bangun dari tidur. Semua anak disekolahkan setinggi-tingginya, semampu otak si anak dan semampu keuangan orangtua. Alhasil begitu anak tamat sekolah sungkan balik ke kampung, dan memang orangtua juga tidak mengharapkan si anak balik ke kampung. “Carilah kehidupan yang lebih layak di rantau”, begitu nasihat orangtua. Eksodus anak ke rantau orang dan beranakpinak di rantau orang akhirnya meninggalkan kakek dan nenek di nagori yang makin sepi.
Rencana pemerintah untuk membangun ring road mengelilingi kawasan Danau Toba di rencanakan akan melewati nagori ini kiranya bisa membuka keterisolasian nagori dan makin memakmurkan kehidupan masyarakat nagori dan sayangnya rencana bagus ini belum kelihatan pelaksanaan di lapangan. Asa harus dibangun karena suatu saat nanti nagori ini bisa jadi menjadi daerah wisata yang terkenal.
Horas tondi madingin, pir tondi matogu.