Juara Dunia Kapok Ketemu Presiden

Agustus 23rd, 2008 by antonaga63

buah-catur.jpgbuah-catur.jpgYuni Veronika, pecatur cilik bergelar Master Catur Internasional berusia 11 tahun asal Riau yang baru menyabet medali emas dalam kejuaraan catur dunia antar pelajar beberapa waktu lalu di Singapura sudah sampai di kampung halamannya di Pelalawan Riau. Beberapa hari terakhir memang Yuni berada di Jakarta bersama ayahnya dalam rangka memenuhi undangan silaturahmi dengan presiden pada perayaan HUT ke-63 Kemerdekaan RI.

Tentu saja Yuni bangga dan merasa terhormat bertemu dengan bapak presiden tapi sekaligus kapok dan tidak mau lagi datang bila ada undangan serupa. “Jika terlantar seperti ini, saya kapok,’ kata Yuni kesal. Setelah acara silaturahmi selesaiYuni dan ayahnya kebingungan karena tidak memiliki uang yang cukup untuk kembali ke Riau. Setelah sempat menginap satu malam di hotel mereka berdua kehabisan uang dan ditengah kebingungannya mereka menyusuri jalanan kota Jakarta dengan berjalan kaki. Untungnya ada orang yang berbaik hati memberi bantuan dan mereka bisa kembali ke Riau.

Syukurlah, kejadian memalukan tersebut tidak sampai membuat Yuni ngambek main catur. “Kalau untuk main catur dan mengikuti kejuaraan saya masih mau,” kata dia.

“Yuni, lupakan saja peristiwa buruk itu dan raihlah prestasi ke tingkat yang lebih tinggi. Kami ingin suatu saat membaca nama Yuni lengkap seperti ini– Woman Grand Master Yuni Veronika.”

Selamat !

@anz

Sirungkungan, Wajahmu Kini

Agustus 15th, 2008 by antonaga63

perkampungan1.JPG 

 Ini hanya nama sebuah kampung kecil di pesisir Danau Toba di kecamatan Purba Horison Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, dalam bahasa daerah setempat disebut Nagori Sirungkungan. Di pesisir Danau Toba dalam wilayah kabupaten Simalungun orang barangkali lebih akrab dengan nama kota Parapat disusul Haranggaol dan sebagian kecil mungkin pernah tahu Tigaras, tapi tidak dengan Sirungkungan. Nagori ini letaknya persis diantara Haranggaol dan Tigaras, kira-kira 8 km dari Haranggaol. Nagori ini terletak di lereng bukit diapit Danau Toba dan bukit yang oleh penduduk setempat dinamai Dolok Simarleo-leo. Akses masuk ke nagori ini memang hanya dari Haranggaol melalui jalan darat berbatu dan diaspal seadanya. Akses melalui danau memang bisa juga tapi jarang dimanfaatkan masyarakat. Jumlah penduduk barangkali hanya sebanyak 40 KK atau sekitar 100 jiwa.

Tidak ada yang spektakuler di nagori ini, dalam arti belum pernah ada kejadian atau orang yang membuat nagori ini populer baik itu yang positip maupun yang negatip, biasa-biasa saja. Adem ayem setenang kehidupan penduduk nagori yang semuanya menggantungkan hidup dari pertanian. Kakek dan ayah saya lahir di nagori ini sementara saya dan adik-adik sudah lahir di perantauan. Sekali-sekali ayah mengajak kami berkunjung ke nagori ini dan boleh dibilang sampai saat ini saya masih berkunjung rutin walaupun sekali dalam setahun.

Nama Sirungkungan sendiri menurut cerita para orang-orangtua berasal dari kata rungkung yang artinya leher. Tepat di tepi danau memang ada semacam daratan yang menjorok ke tengah danau yang kalau dilihat dari kejauhan seperti sebuah tanjung padahal sebenarnya daratan paling ujung tersebut adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Sumatera, seolah-olah ada selat yang memisahkan daratan Sumatera dan pulau kecil tersebut. Selat ini seolah-olah seperti leher (rungkung) yang menyambung daratan dengan pulau kecil tersebut dan muncullah nama rungkung.

 Dolok Simarleo-leo

Penduduk sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan sebagaimana umumnya kehidupan petani di Indonesia tidak masuk dalam kategori desa miskin tapi juga belum bisa dikatakan hidup makmur dan sejahtera. Bangunan rumah hampir semuanya sama, berdinding papan, beratap seng dan berbentuk rumah panggung dengan tinggi kira-kira setengah meter dari tanah. Nagori ini sudah dialiri listrik dari PLN, ada pemandian umum. Sebahagian penduduk sudah ada yang memiliki sepeda motor, antena parabola dan sebahagian besar sudah semua memiliki pesawat handphone.

 

Semua penduduk sudah melek huruf karena di nagori tetangga ada sekolah dasar negeri dan swasta tempat penduduk nagori sekitar bersekolah. Di sekolah inilah saya sampai kelas 2 SD. Pola hidup masyarakat juga sudah mulai hidup sehat dengan patungan membangun jamban dan pemandian umum. Penduduk juga tidak ada lagi yang memelihara ternak babi di bawah rumah padahal dulunya rumah dibangun berbentuk rumah panggung karena bagian bawah rumah berfungsi sebagai kandang babi.

 

Ada yang tidak biasa dengan nagori ini dan mungkin juga nagori-nagori lain di sekitarnya. Tahun demi tahun tidak ada pertambahan penduduk malah berkurang. Sudah ada rumah yang dibongkar karena tidak ada penghuninya dan ada juga rumah dibiarkan kosong. Sekolah di nagori tetanggapun mulai mengeluh kekurangan murid dan kemungkinan tak lama lagi salah satu sekolah SD yang swasta akan tutup. Kemana penduduknya ? Merantau.

 

Masyarakat yang selama ini bekerja keras mengolah ladang mati-matian menyekolahkan anak ke kota, kebanyakan ke Pematangsiantar. Anakhonhi do Hamoraon di Ahu bukan sekedar slogan tanpa makna, tapi sudah merupakan aliran darah yang harus memecut semangat dalam hidup keseharian dan merupakan prioritas yang datang menyergap begitu bangun dari tidur. Semua anak disekolahkan setinggi-tingginya, semampu otak si anak dan semampu keuangan orangtua. Alhasil begitu anak tamat sekolah sungkan balik ke kampung, dan memang orangtua juga tidak mengharapkan si anak balik ke kampung. “Carilah kehidupan yang lebih layak di rantau”, begitu nasihat orangtua. Eksodus anak ke rantau orang dan beranakpinak di rantau orang akhirnya meninggalkan kakek dan nenek di nagori yang makin sepi.

 

Rencana pemerintah untuk membangun ring road mengelilingi kawasan Danau Toba di rencanakan akan melewati nagori ini kiranya bisa membuka keterisolasian nagori dan makin memakmurkan kehidupan masyarakat nagori dan sayangnya rencana bagus ini belum kelihatan pelaksanaan di lapangan. Asa harus dibangun karena suatu saat nanti nagori ini bisa jadi menjadi daerah wisata yang terkenal.

Horas tondi madingin, pir tondi matogu.

Indonesia bawa 4 emas dari Beijing

Agustus 13th, 2008 by antonaga63

mariakristin-indranilmukherjee-cov.jpgPada event olimpiade kali ini di Beijing Indonesia akan memecahkan rekor pencapaian medali emas. Ya, emas akan dibawa pulang team Indonesia sebanyak 4 keping. Dari cabang manalagi kalau bukan dari bulutangkis. Sampai saat ini Maria (tunggal putri), Sony (tunggal putra), Flandi/Vita, Nova/Natsir (Ganda campuran), dan Markis/Hendra (ganda putra) tidak terkalahkan dan sukses melaju ke babak 8 besar. pencapaian terbaik malah dicapai Maria dengan melaju ke babak 4 besar.

Ayo Indonesia………libas terus…eehhh…smash terus………..

Andaryoko = Supriyadi ?

Agustus 13th, 2008 by antonaga63

supriyadiluar.jpgLelaki itu sudah sepuh, berusia 89 tahun, namanya Andaryoko Wisnu Prabu dan mengaku pejuang PETA. Sampai disini tidak ada yang aneh dengan lelaki tersebut. Cerita menjadi lain karena Andaryoko mengaku sebagai Supriyadi, pejuang PETA yang secara resmi sudah dinyatakan meninggal dan diberi gelar Pahlawan Nasional. Selama ini “Supriyadi” menyamar dengan nama lain agar tak ditangkap Jepang, terakhir mengubah identitas dengan nama Andaryoko Wisnu Prabu.

Benarkah Andaryoko adalah Supriyadi si pejuang PETA ?

Mesra Bersama Flexi

Agustus 12th, 2008 by antonaga63

Brand image produk yang satu ini dengan icon bintang ”Kirana Larasati”, pemeran ”Azizah” di salah satu sinetron TV swasta sejak menggaungnya gymmick Flexi Jumbo boleh dikatakan market growth next generation revenue Flexi semakin membumi. Segmentasi pasar yang membundling Flexi-Nexian dengan harga yang cukup kompetitif membuat market kompetitor semakin gerah dibuatnya.  Read the rest of this entry »

Halo dunia!

Agustus 12th, 2008 by antonaga63

Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!